Postingan

Serangan nyamuk.

 Memoir 8  Setiap kali aku mematikan lampu untuk tidur dimalam hari pasti aja saja nyamuk yang menyerangku walaupun aku sudah berada di dalam selimut. Segala cara yang aku bisa sudah aku lakukan, pakai minyak sudah, raket nyamuk selalu berada di dekat ku, menghidupkan pewangi ruangan agar nyamuk pergi juga sudah. Tapi tetap saja mereka datang dan menyerangku habis-habisan. Seringkali karena itu aku tidak bisa langsung tertidur, aku menghabiskan 30 menit untuk membunuh nyamuk-nyamuk itu, tapi tak semuanya berhasil ku basmi. Nyamuk sialan. Sesekali aku berkata,  “Apa kegunaan hidupmu di dunia ini nyamuk jahat?”   Kalau dipikir-pikir bagaimana aku bisa melewati setiap malam yang penuh dengan serangan nyamuk? Aku baru sadar itu karena aku menutup telingaku, sesekali aku mengusirnya apabila ia mulai menyentuh wajahku, lalu aku akan mengalihkan diriku dan membayangkan apa yang ingin aku bayangkan. Apabila aku memikirkan kehadiran para nyamuk itu, mungkin aku tak akan ...

Papiloma lidah.

  Memoir 7 “Waduh ini luka yang nggak sembuh sempurna, mungkin nanti perlu diambil tindakan operasi.” Begitu kira-kira perkataan para dokter yang memeriksa luka yang berbentuk seperti daging tumbuh dibawah lidah ku.  Aku tak percaya bahwa luka sekecil itu ternyata sangat berbahaya hingga harus dioperasi. Mimpi buruk apa yang telah aku alami.   Sebelum itu akan ku jelaskan apa itu papiloma. Menurut internet, papiloma adalah benjolan kecil yang muncul di permukaan seperti kulit, lidah, dan lainnya. Awalnya bagian lidah ku terasa sakit dan muncul seperti kutu air, dan tentunya karena tangan ku tak bisa diam aku pecahkan kutu air yang ada pada lidahku. Namun, lama kelamaan ada hal yang menjanggal dan membuatku berfikir  “Ini kenapa tidak sembuh-sembuh dan semakin sakit ya?” Tanpa berpikir panjang aku asal memegangnya hingga lidahku kerap berdarah. Karena tak sembuh-sembuh akhirnya aku memberitahu orang tuaku. Berakhirlah aku diperiksa oleh dokter yang ada di dekat r...

Di sekitarku.

  Memoir 6 Semenjak aku lulus sekolah, aku memang lebih banyak menghabiskan waktuku di rumah dan melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Satu hal yang baru aku rasakan ketika aku berada di rumah dalam jangka waktu yang lama adalah kedekatanku dengan orang disekitar, termasuk orang tuaku. Aku berkata demikian karena sebelumnya aku lebih banyak menghabiskan waktu di asrama dan hanya bertemu mereka seminggu sekali dan saat bertemu pun aku memilih untuk bermain gadget. Oleh karena itu, sekarang aku mau tak mau harus menjalin interaksi dengan siapapun yang ada di rumahku dan di lingkungan ku.  Ku akui hal ini memberikan dampak yang baik bagi diriku. Aku mulai belajar basa-basi dan belajar menggunakan bahasa Bali untuk berbicara dengan mereka. Ketika ada tukang yang bekerja dan aku membawakan jajan, maka aku akan berkata bahwa aku datang membawa jajan dalam bahasa bali  “Ibu, niki wenten sanganan, tiang genah drika nggih.”  Diakhiri dengan senyuman singkat Atau ketika a...

Obrolan di bawah tangga.

Memoir 5  Saat aku masih duduk dibangku kelas 12, aku dan teman ku sering sekali menghabiskan waktu malam untuk berbicara di bawah tangga asrama. Kami teman sekelas, tetapi tidak satu kamar. Obrolan itu pasti diawali dengan kalimat “Ayo, cerita apa yang kamu punya selama seminggu ini?” Karena aku bukan tipe seseorang yang memulai pembicaraan duluan, jadi kubiarkan teman ku yang bercerita dan aku menjadi pendengarannya. Tetapi, jika kita berdua tidak memiliki cerita, maka, obrolan itu akan membahas berbagai macam hal seperti masa depan, bagaimana dunia bekerja, dan berbagai macam hal lainnya.  Sejujurnya mengobrol di bawah tangga asrama merupakan sebuah hal yang tak seharusnya dilakukan. Sebab itu, setiap kali kita melakukannya pasti ditemani dengan perasaan was-was. Setiap kami mendengar pintu kamar penjaga asrama terbuka maupun suara kunci yang digerakkan, kami langsung lari dan bersembunyi. Biasanya aku yang selalu  panik tertangkap basah.  “Eh, itu teacher? dimana...

Anjing.

 Memoir 4    Hahaha, judulnya terkesan seperti umpatan, tapi aku tak berminat mengumpat. Aku hanya ingin bercerita tentang anjingku. Aku memilikinya semenjak aku duduk di bangku kelas 11 mungkin. Anjing itu dibeli oleh orang tuaku dan mereka tertarik karena anjing ini adalah anjing pemburu dan berharap dia bisa menjadi penjaga rumah yang baik. Ia adalah anjing yang berjenis beagle perempuan dan namanya adalah scooby. Kali pertama aku bertemu dengannya, aku merasa bersemangat karena ada makhluk baru yang tinggal di rumahku. Namun, lambat laun perasaan semangat tak ada artinya, aku mulai jengkel dengannya.   Aku selalu kesal melihatnya, karena semua hal yang ada di rumah diporak-porandakan olehnya, baju di atas jemuran, sampah, tanaman, bahkan pakaian dalam pun diumbar olehnya. Dia hanya tinggal di halaman, tak pernah sekalipun keluargaku mengizinkannya masuk ke dalam ruangan. Pada waktu tertentu aku bahkan dibuat takut olehnya, aku tak ingin dikejar bahkan aku tak in...

Bali dari perspektif ku.

Memoir 2   Bali merupakan pulau yang diakui keindahannya hingga mancanegara. Setidaknya, itulah yang kita semua ketahui tentang Bali. Alamnya yang memukau, tradisinya yang menarik, dan kebiasaan masyarakatnya mempesona bagi mereka. Aku sebagai masyarakat Bali pun mengakui itu. Setiap hari turis beramai-ramai datang untuk menikmati keindahan Bali beserta budayanya dengan mata kepala mereka sendiri. Turis dari luar negeri dan dalam negeri tidak ada habisnya. Aku sendiri pernah merasa senang karena banyak turis yang datang untuk menikmati kebudayaan Bali dan aku yakin masyarakat Bali yang lain pun merasa demikian karena ini memudahkan mereka dalam bekerja guna mendapatkan uang untuk menjalankan hidup.   Tahun demi tahun turis yang datang tidak berkurang bahkan bertambah setiap harinya. Aku tidak lagi merasa sesenang dahulu saat melihat banyak turis. Aku mulai merasa risih dan bosan melihat ramainya Bali, aku juga melihat dampak dari kedatangan mereka. Seperti yang kita tahu, be...

Malas.

 Memoir 1 “Diriku, hari ini rasanya kamu banyak membuang waktu dengan menunda. Ku harap esok hari tidak begitu karena kamu harus melakukan bla…bla…bla…” Begitulah dialog refleksi yang kulakukan setiap malam bersama tubuhku sebelum aku tertidur lelap. Walau pada akhirnya semua dialog itu berakhir sia-sia. Aku terkadang berfikir bahwa sebenarnya musuh terbesarku bukan orang lain, tetapi rasa malas yang ada dalam diriku. Apa hanya aku yang merasa demikian? Bagaimana bisa ia menghancurkan hari-hari ku yang sebelumnya sudah terencana, padahal ia hanyalah sebuah perasaan yang tak berwujud. Aneh. Aku punya satu pengalaman terkait ini yang masih membekas dan  kalau diingat-ingat terus membuat ku merasa menyesal.  Saat itu aku duduk dibangku kelas 12. Di sekolahku, siswa yang berada di jenjang akhir wajib membuat suatu karya dari sebuah permasalahan yang ada di sekolah, karya yang dibuat dapat berupa buku, film, lagu, maupun edukasi yang diperuntukkan kepada masyarakat maupun sisw...