Anjing.

 Memoir 4 

  Hahaha, judulnya terkesan seperti umpatan, tapi aku tak berminat mengumpat. Aku hanya ingin bercerita tentang anjingku. Aku memilikinya semenjak aku duduk di bangku kelas 11 mungkin. Anjing itu dibeli oleh orang tuaku dan mereka tertarik karena anjing ini adalah anjing pemburu dan berharap dia bisa menjadi penjaga rumah yang baik. Ia adalah anjing yang berjenis beagle perempuan dan namanya adalah scooby. Kali pertama aku bertemu dengannya, aku merasa bersemangat karena ada makhluk baru yang tinggal di rumahku. Namun, lambat laun perasaan semangat tak ada artinya, aku mulai jengkel dengannya.

  Aku selalu kesal melihatnya, karena semua hal yang ada di rumah diporak-porandakan olehnya, baju di atas jemuran, sampah, tanaman, bahkan pakaian dalam pun diumbar olehnya. Dia hanya tinggal di halaman, tak pernah sekalipun keluargaku mengizinkannya masuk ke dalam ruangan. Pada waktu tertentu aku bahkan dibuat takut olehnya, aku tak ingin dikejar bahkan aku tak ingin disapa olehnya. Saat itu, aku hanya bisa mengusirnya dan berbicara dengan nada membentak. Badannya yang kecil jarang ada yang mengurus, hanya kotorannya saja yang diperhatikan agar tidak terinjak. Ia hanya memakan sisa makanan dari kami. Malam hari mungkin saja ia merasa kedinginan, tetapi kita semua tak ada yang peduli. Ah, terdengar dramatis sekali hidupnya. Tapi bukan berarti kita tidak pernah mengurusnya, hanya saja kurang mempedulikannya.

  Tahun berganti tahun, aku akhirnya lulus sekolah dan kembali ke rumah dan pastinya aku bertemu dengan scooby, anjing yang aku pikir autis. Setelah libur semester selesai, aku diam di rumah sementara adikku pergi ke asrama dan orang tuaku bekerja. Hal yang wajar bagiku untuk merasa kesepian, tetapi suatu saat aku tersadar bahwa di rumah aku tidaklah seorang diri, ada anjingku yang diam menunggui rumah. Perlahan, aku menjadikannya teman. Walau takut, aku mencoba untuk mengelusnya, memasak untuknya, memandikannya, dan bermain dengannya walaupun terkadang ia mencakar dan menggigitku dengan bercanda. Hari-hari berikutnya aku mulai menghargai kehadirannya sebagai temanku, bukan lagi sekadar penjaga rumah.

  Akhir-akhir ini aku melihatnya dengan rasa sedikit iba; sorot matanya seakan memelas, menghiba untuk disayangi. Aku bahkan tak rela menutup pintu halaman dan ruangan ketika dia diam menunggu di sana. Aku tak tahan melihatnya kehujanan, hingga akhirnya aku memberikan bajuku untuknya. Setiap pagi aku disapa dan diajak bercanda olehnya. Sepertinya aku sudah terlalu menyayanginya. Sayangnya saat aku sudah mulai sayang dengannya, Ibu berkata bahwa ia memiliki jamur di tubuhnya dan memintaku untuk menjaga jarak. Bahkan sekarang ia tidak boleh masuk ruangan lagi. Setiap kali aku melihatnya, aku sangat sedih membayangkan ia sendirian di luar sana. Aku harap dia cepat sembuh dan diizinkan masuk agar aku bisa bermain bersamanya lagi. Itu saja ceritaku tentang teman baruku. Terima kasih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anak tak sabar dewasa.

Bali dari perspektif ku.