Bali dari perspektif ku.
Memoir 2
Bali merupakan pulau yang diakui keindahannya hingga mancanegara. Setidaknya, itulah yang kita semua ketahui tentang Bali. Alamnya yang memukau, tradisinya yang menarik, dan kebiasaan masyarakatnya mempesona bagi mereka. Aku sebagai masyarakat Bali pun mengakui itu. Setiap hari turis beramai-ramai datang untuk menikmati keindahan Bali beserta budayanya dengan mata kepala mereka sendiri. Turis dari luar negeri dan dalam negeri tidak ada habisnya. Aku sendiri pernah merasa senang karena banyak turis yang datang untuk menikmati kebudayaan Bali dan aku yakin masyarakat Bali yang lain pun merasa demikian karena ini memudahkan mereka dalam bekerja guna mendapatkan uang untuk menjalankan hidup.
Tahun demi tahun turis yang datang tidak berkurang bahkan bertambah setiap harinya. Aku tidak lagi merasa sesenang dahulu saat melihat banyak turis. Aku mulai merasa risih dan bosan melihat ramainya Bali, aku juga melihat dampak dari kedatangan mereka. Seperti yang kita tahu, beberapa dari mereka yang berasal dari luar maupun dalam negeri datang ke sini tak hanya untuk berlibur, tetapi mereka memutuskan untuk menetap di sini dan memulai kehidupan baru. Kurasa ini memengaruhi keadaan masyarakat di sini. Rasanya mereka mulai banyak mengambil dan merampas peran masyarakat Bali karena jumlah mereka yang dominan di lingkungan masyarakat sekarang. Lapangan pekerjaan menjadi hal yang cukup berat karena semakin banyak pesaing, dan peluang pun semakin sedikit.
Hal lainnya yang membuat ku sedih adalah tanah-tanah yang dimiliki setiap keluarga habis dijual kepada para pendatang. Hal ini dilakukan sebagian masyarakat Bali untuk memperoleh uang dengan cepat dan dalam jumlah banyak. Peristiwa ini membuat ku berpikir bahwa kelak Bali bukanlah milik kita lagi, tetapi milik para pendatang, dan masyarakat Bali tak punya tempat di tanah mereka sendiri. Akankah masyarakat Bali bernasib sama seperti masyarakat Hawaii? Padahal, tanah yang mereka jual bisa digunakan untuk melakukan berbagai macam hal guna menambah pemasukan mereka dalam jangka panjang. Tapi entahlah, aku juga heran.
Kedatangan mereka dan menetapnya mereka di Bali tak hanya memengaruhi masyarakat dari sisi lapangan pekerjaan tetapi juga juga memengaruhi keadaan lingkungan masyarakat Bali. Jujur saja, beberapa dari pendatang tidak merawat rumah maupun lingkungan sekitar sehingga lingkungan terlihat kumuh dan terkadang penuh dengan sampah. Aku berkata demikian karena telah melihat dengan mata kepala ku sendiri. Bukankah seharusnya sebagai pendatang, mereka menghormati dan menjaga lingkungan tempat mereka tinggal? Menurutku, mereka hanya memperburuk keadaan Bali.
Aku menulis ini bukan berarti ingin Bali tidak dikunjungi, hanya saja aku menulis ini sebagai bentuk curhatan karena kurasa para pendatang ini sudah mulai kehilangan akalnya dan merasa tanah ini milik mereka. Sehingga, mereka mulai mengacau dengan masyarakat Bali. Aku senang mereka berkunjung ke sini hanya sedih kala mereka tak menghormati tanah ini. Itulah sebagian perspektifku tentang Bali.
Alam selalu mengkalibrasi dirinya dengan hal yang kita sebut bencana di saat sudah banyak ornamen tambahan yang dibuat manusia untuk menghias alam yang mana menurut perspektif manusia itu untuk menunjang hidup manusia padahal itu menyakiti alam. Kunjungan ke Bali sebenarnya sangat bisa dibatasi sepanjang ego kita di Bali yang melihat bahwa materi adalah segalanya dapat diturunkan dan diganti menjadi : keberlanjutan Bali adalah segalanya
BalasHapus