Di sekitarku.
Memoir 6
Semenjak aku lulus sekolah, aku memang lebih banyak menghabiskan waktuku di rumah dan melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Satu hal yang baru aku rasakan ketika aku berada di rumah dalam jangka waktu yang lama adalah kedekatanku dengan orang disekitar, termasuk orang tuaku. Aku berkata demikian karena sebelumnya aku lebih banyak menghabiskan waktu di asrama dan hanya bertemu mereka seminggu sekali dan saat bertemu pun aku memilih untuk bermain gadget. Oleh karena itu, sekarang aku mau tak mau harus menjalin interaksi dengan siapapun yang ada di rumahku dan di lingkungan ku.
Ku akui hal ini memberikan dampak yang baik bagi diriku. Aku mulai belajar basa-basi dan belajar menggunakan bahasa Bali untuk berbicara dengan mereka. Ketika ada tukang yang bekerja dan aku membawakan jajan, maka aku akan berkata bahwa aku datang membawa jajan dalam bahasa bali
“Ibu, niki wenten sanganan, tiang genah drika nggih.” Diakhiri dengan senyuman singkat
Atau ketika aku berpapasan dengan tetangga, aku akan tersenyum sambil menunduk dan menyapa mereka dengan “bu/pak.” Begitulah aku menjalin interaksi dengan mereka.
Namun, bukan hanya cara bersosialisasi yang aku dapatkan. Orang-orang yang sering aku temui perlahan memberikan aku pelajaran yang menyentuh, terutama orang tuaku. Dari mereka aku belajar bahwa bertambah dewasa berarti menambah tanggung jawab, walau aku sudah tahu sebelumnya, tetapi melalui orang tuaku aku dapat melihat contoh nyatanya. Selain itu interaksi orang tuaku dengan keluarga mereka juga menjadi pembelajaran ku, termasuk rasa persaudaraan antara kakak dan adik yang mengharuskan untuk saling menjaga. Pentingnya memiliki prinsip dalam hidup, bagaimana mereka memahami satu sama lain, dan banyak sekali pembelajaran yang bisa diambil melalui keseharian mereka ataupun ceramah yang mereka berikan.
Selain orang tuaku, orang-orang disekitar ku memberikan ku pembelajaran tentang kerja keras. Salah satunya adalah tukang yang sedang bekerja di rumah. Aku kagum dengan semangat juangnya untuk mencari nafkah, walau kurasa usia beliau sudah termasuk lansia. Tetapi semangatnya dan keteguhannya untuk mencari nafkah tidak pudar kurasa. Melalui orang-orang disekitarku, aku sadar bahwa hidup tak segampang yang kita bayangkan.
Komentar
Posting Komentar