Obrolan di bawah tangga.

Memoir 5 

Saat aku masih duduk dibangku kelas 12, aku dan teman ku sering sekali menghabiskan waktu malam untuk berbicara di bawah tangga asrama. Kami teman sekelas, tetapi tidak satu kamar. Obrolan itu pasti diawali dengan kalimat “Ayo, cerita apa yang kamu punya selama seminggu ini?” Karena aku bukan tipe seseorang yang memulai pembicaraan duluan, jadi kubiarkan teman ku yang bercerita dan aku menjadi pendengarannya. Tetapi, jika kita berdua tidak memiliki cerita, maka, obrolan itu akan membahas berbagai macam hal seperti masa depan, bagaimana dunia bekerja, dan berbagai macam hal lainnya. 

Sejujurnya mengobrol di bawah tangga asrama merupakan sebuah hal yang tak seharusnya dilakukan. Sebab itu, setiap kali kita melakukannya pasti ditemani dengan perasaan was-was. Setiap kami mendengar pintu kamar penjaga asrama terbuka maupun suara kunci yang digerakkan, kami langsung lari dan bersembunyi. Biasanya aku yang selalu  panik tertangkap basah. 

“Eh, itu teacher? dimana? kita lari atau diem?” kataku

Kalau aku merasa bahwa keadaan sudah tidak aman karena sedari tadi banyak penjaga asrama yang datang, maka aku akan berkata 

 “Sudahi saja yuk, kita lanjut besok hari saja, aku takut ketahuan teacher” 

Tapi terkadang penjaga asrama menangkap basah bahwa salah satu dari kami tidak ada di dalam kamar. Obrolan ini biasanya dilakukan pada hari jumat malam, mungkin bisa sampai tengah malam. Kami tuntaskan dulu rutinitas masing-masing, kemudian salah satu dari kami akan menjemput atau menunggu di bawah tangga dan memulai obrolan. Ketika kembali ke kamar, terkadang teman-teman di kamarku sudah tidur dan beberapa masih membaca buku. 

Mengobrol di bawah tangga sempat tak kita lakukan karena sedang masa-masa ujian, tetapi setelah itu kita lanjutkan lagi. Bahkan sebelum kita benar-benar lulus, kita masih melakukannya. Jikalau aku tidak salah, pembicaraan terakhir membahas rahasia satu sama lain yang belum diceritakan. Kalau dipikir kembali aku tak banyak menceritakan tentangku, karena merasa cerita teman ku lebih menarik. 

Aku menulis ini karena sekarang aku sangat rindu dengan semua itu. Aku rindu sekali berbicara di bawah tangga dengan perasaan was-was dan cemas. Walau tak banyak bercerita dan tak pandai menanggapi cerita, aku senang bisa menjadi pendengar bagi temanku itu. Banyak sekali pemikirannya yang aku kagumi, walau aku tak terlalu ingat sekarang. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anak tak sabar dewasa.

Bali dari perspektif ku.

Anjing.