Malas.
Memoir 1
“Diriku, hari ini rasanya kamu banyak membuang waktu dengan menunda. Ku harap esok hari tidak begitu karena kamu harus melakukan bla…bla…bla…” Begitulah dialog refleksi yang kulakukan setiap malam bersama tubuhku sebelum aku tertidur lelap. Walau pada akhirnya semua dialog itu berakhir sia-sia.
Aku terkadang berfikir bahwa sebenarnya musuh terbesarku bukan orang lain, tetapi rasa malas yang ada dalam diriku. Apa hanya aku yang merasa demikian? Bagaimana bisa ia menghancurkan hari-hari ku yang sebelumnya sudah terencana, padahal ia hanyalah sebuah perasaan yang tak berwujud. Aneh. Aku punya satu pengalaman terkait ini yang masih membekas dan kalau diingat-ingat terus membuat ku merasa menyesal.
Saat itu aku duduk dibangku kelas 12. Di sekolahku, siswa yang berada di jenjang akhir wajib membuat suatu karya dari sebuah permasalahan yang ada di sekolah, karya yang dibuat dapat berupa buku, film, lagu, maupun edukasi yang diperuntukkan kepada masyarakat maupun siswa di sekolah. Saat itu aku diputuskan dan memutuskan untuk membuat sebuah buku edukasi yang mengangkat isu tentang kebersihan diri. Diawal waktu aku tau dan sadar bahwa membuat buku bukanlah hal yang mudah dan membutuhkan waktu yang lama, karena aku sudah pernah memiliki pengalaman sebelumnya. Aku akui bahwa saat itu aku sungguh-sungguh mengerjakannya, mencari informasi, membaca jurnal, inspirasi buku, dan melakukan berbagai hal yang aku butuhkan.
Sayangnya di tengah jalan aku malah melambat dan merasa ini adalah project biasa. Belum lagi aku kehilangan guru yang membimbing proyek ku karena tiba-tiba saja ia pindah tempat bekerja. Sejak itulah aku malah menghabiskan waktu untuk menghibur diri dengan menonton, bermain TikTok, dan berbagai aktivitas yang bisa menyenangkan ku. Tapi bukan berarti aku tidak mengerjakannya, hanya saja aku melakukannya dengan lambat. Saat itu sepertinya sebagian besar teman ku selalu menanyakan ku “kamu sudah sampai mana projectnya? Pasti sudah selesai ya?” ya begitulah kira-kira, karena ternyata kita mengalami hal yang sama.
Tenggat proyek ini adalah akhir Februari, dan aku di bulan Januari bahkan belum selesai apa-apa. Semua temanku sudah mulai membuat laporan akhir proyek mereka, sedangkan aku masih berkutat dengan proyekku. Sisa hari-hari ku berjalan dengan keadaan penuh tekanan. Rasanya seperti aku dikejar setan. Setelah semua perjalanan dan akibat yang harus aku tanggung, akhirnya proyekku dipresentasikan pada akhir Februari, dan aku rasa hasilnya tidak maksimal.
Aku sadar bahwa waktu dan rasa malas merupakan perbandingan terbalik. Keduanya tak bisa berjalan bersamaan. Semenjak itulah aku sadar bahwa musuh terbesarku adalah rasa malas, dan aku juga berterima kasih karena memberiku pelajaran yang tidak mengenakkan.
Komentar
Posting Komentar