Papiloma lidah.
Memoir 7
“Waduh ini luka yang nggak sembuh sempurna, mungkin nanti perlu diambil tindakan operasi.” Begitu kira-kira perkataan para dokter yang memeriksa luka yang berbentuk seperti daging tumbuh dibawah lidah ku. Aku tak percaya bahwa luka sekecil itu ternyata sangat berbahaya hingga harus dioperasi. Mimpi buruk apa yang telah aku alami.
Sebelum itu akan ku jelaskan apa itu papiloma. Menurut internet, papiloma adalah benjolan kecil yang muncul di permukaan seperti kulit, lidah, dan lainnya. Awalnya bagian lidah ku terasa sakit dan muncul seperti kutu air, dan tentunya karena tangan ku tak bisa diam aku pecahkan kutu air yang ada pada lidahku. Namun, lama kelamaan ada hal yang menjanggal dan membuatku berfikir
“Ini kenapa tidak sembuh-sembuh dan semakin sakit ya?” Tanpa berpikir panjang aku asal memegangnya hingga lidahku kerap berdarah. Karena tak sembuh-sembuh akhirnya aku memberitahu orang tuaku. Berakhirlah aku diperiksa oleh dokter yang ada di dekat rumah ku. Tak kusangka ternyata aku berakhir dirujuk kerumah sakit.
Setelah di rumah sakit pun akhirnya aku dirujuk lagi ke rumah sakit umum daerah. Aku kaget ternyata aku harus melakukan macam-macam tes untuk menghilangkan papiloma ku. Mulai dari mencari tahu apakah ia jinak atau ganas, tes darah, dan berbagai tes lainnya. Akhirnya setelah semua itu, diputuskan bahwa operasi ku 2 hari lagi. Sejujurnya saat itu aku gugup sekali, aku bahkan berdoa agar benjolan di lidahku hilang dengan sendirinya.
Saat hari operasi tiba aku sangat takut hingga ingin menangis sebenarnya, tapi kutahan karena malu. Karena ini pertama kalinya aku melakukan operasi, aku tak tahu harus apa, bahkan aku tak tahu bagaimana cara memakai baju untuk operasi. Untungnya ada ibuku yang membantu dan sudah berpengalaman. Setelah selesai aku langsung diinfus dan sedikit berbincang dengan dokter maupun perawat disana.
Aku diberikan anastesi agar tak merasa sakit, tetapi aku tidak sepenuhnya tidur, aku masih sadar. Aku menggigil dan berfikir macam-macam
“Apa AC di ruang operasi tidak boleh dinaikkan suhunya? Dingin sekali aku tak kuat. Apa petugas disini tidak kedinginan?”
“Bagaimana anjingku, dia kelaparan tidak ya?”
“Kenapa rasanya aku tidak bisa membuka mata ya? Aku ingin tahu seberapa ramai di ruangan ini.” Begitulah kira-kira pikiran ku
Untungnya operasi tak berjalan lama dan aku hanya butuh 30-40 menit untuk sadar dan bisa pulang. Setelah beberapa jam baru aku merasakan sakitnya jahitan operasi dan lidahku seperti mati rasa . Walaupun ini pengalaman yang tidak mengenakkan bagiku, tetapi pengalaman ini memberikan ku pelajaran bahwa janganlah tanganmu menjadi “gudip” yang artinya janganlah tanganmu menjadi usil atau tak bisa diam.
Komentar
Posting Komentar